Rekomendasi Menjadi Blogger Kaya:

Saturday, September 6, 2008

Hikmah Dibalik Kondisi Fisik Lidah Manusia

Oleh: Arda Dinata
Email:
arda.dinata@gmail.com

Rasulullah Saw., menerangkan dalam beberapa hadisnya, bagaimana pentingnya kedudukan kesehatan menurut pandangan Islam. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: “Seorang Arab dusun datang pada Rasulullah Saw., lalu ia bertanya kepada Rasulullah” ‘Apakah yang (baik) aku minta kepada Allah setelah selesai melakukan shalat lima waktu?’ Rasulullah menjawab: ‘Mintalah kesehatan.’ Orang Arab dusun itu masih tetap mengulangi pertanyaannya. Maka untuk yang ketiga kalinya Rasulullah mengatakan: ‘Mintalah kesehatan di dunia dan di akhirat.’”

Berkait dengan itu, sungguh segala sesuatu yang Allah SWT ciptakan memiliki makna dan hikmah bagi mereka yang mampu dan berusaha “membacanya.” Begitu juga dengan alat indera pengecap (lidah), kalau kita tafakuri sungguh memiliki berbagai hikmah yang dapat menjadi pelajaran yang bermakna dalam hidup manusia (baca: menentukan kondisi kesehatan manusia).

Dengan memahami kondisi fisik lidah manusia, maka setidaknya kita dapat memberi suatu tafsiran terhadap kondisi kesehatan orang tersebut. Melihat lidah adalah salah satu cara yang paling tepat untuk memeriksa kondisi kesehatan seseorang. Yakni akan segera diketahui kualitas utama penyebab ketidakharmonisan kondisi tubuh tersebut. Artinya, banyak gejala tetapi baru dapat diartikan apabila semua konfigurasi telah diketahui, akan tetapi melihat lidah adalah suatu interpretasi yang paling penting.

Dokter Cina membedakan lidah menjadi dua hal, yaitu: material lidah dan lapisan lidah. Lapisan lidah dapat diartikan sebagai lapisan yang menyelimuti lidah sehingga dikenal istilah lidah 'berlumut' atau lidah 'berbulu'. Material lidah dan lumut lidah adalah dua hal yang berbeda dalam melakukan pemeriksaan dengan cara melihat lidah. Material lidah adalah derajat/rona warna lidah dan kelembaban lidah, di mana hal ini yang membedakan antara lidah orang sehat dan lidah orang sakit.

Lidah orang sehat atau lidah normal berwarna merah pucat dan lembab. Warna ini terjadi karena darah yang mengalir ke lidah juga membawa energi yang mengalir pelan. Apabila ada pesien dengan warna lidah normal, tetapi sakit, maka hal ini dapat diartikan bahwa darah dan energi mengalir lancar, sehingga prognosis akan menjadi lebih mudah.

Berikut ini, ada beberapa barometer dari kondisi fisik lidah manusia terhadap kesehatannya, yaitu:

· Lidah berwarna pucat memberi indikasi kekurangan darah atau kekurangan energi atau orang tersebut kedinginan. Sebaliknya, warna lidah yang terlalu merah menunjukkan panas bersemayam di dalam tubuh orang tersebut.

· Lidah berwarna ungu biasanya menunjukkan bahwa darah dan energi tidak bergerak dengan harmonis dan ada kemungkinan energi mengalami stagnasi atau terjadi pembekuan darah.

· Lidah yang mengecil biasanya menunjukkan gejala kekurangan darah atau cairan tubuh.

· Lidah kaku menunjuk kepada dampak angin atau ada mucus menutupi aliran energi jantung.

· Lidah yang tidak dapat diam atau terus bergetaran dan pucat menunjukkan ketidakcukupan energi pengatur gerakan.

· Lidah merah menunjuk gejala angin internal bergerak di dalam lidah.

· Lidah berwarna ungu atau pucat dan kaku biasanya karena dingin menyerang tubuh.

· Lidah yang pecah-pecah adalah normal jika memang ada sejak lahir. Akan tetapi jika bukan kondisi di atas, lidah pecah menunjuk kepada penyakit kronis.

· Lidah merah dan pecah-pecah biasanya merupakan pertanda panas melumpuhkan produksi cairan tubuh atau kekurangan Yin.Lidah pucat dan pecah-pecah menunjuk kekurangan darah dan energi.

· Pori-pori lidah yang membesar atau tampak seperti duri-duri dan merah biasanya terjadi karena panas atau pembekuan darah.

Indikator tersebut, biasanya hanya terjadi pada bagian tertentu pada lidah, karena lidah mempunyai kaitan dengan organ-organ pada tubuh. Misalnya, ujung lidah berhubungan dengan organ jantung. Jadi, biarpun lidah tidak bertulang, tapi organ ini memiliki arti penting dalam penentuan kualitas kesehatan seseorang. Waallahu’alam.*** [Arda Dinata/aneka sumber].

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

Kenalilah NAPZA dengan Benar!

Oleh: Arda Dinata
http://ardaiq.blogspot.com

BANYAK orang tua yang punya anak usia remaja merasa khawatir terhadap kondisi peredaran narkoba saat ini. Pasalnya, pada usia remaja dan dewasa muda (16-23 tahun) itulah usia pertama kali menggunakan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) terbanyak.

Buktinya, data dari Polwiltabes Bandung menyebutkan dalam lima bulan terakhir (Juni 2003), telah menangani 63 kasus narkotika dengan 132 tersangka dan 34 kasus psikotropika dengan 53 tersangka adalah usia produktif (17-45 tahun). Sehingga cukup beralasan statmen dari ketua DPD Granat Jawa Barat, seperti yang disampaikan Wenda Safitri Aluwi, SH., selaku Kepala Biro Pelayanan Masyarakat bahwa “Tidak ada satu RW pun di Kota Bandung yang tidak ada pengguna Narkoba.”

Hal senada juga diungkapkan dr.Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater), ternyata penyalahguna NAPZA menembus batas area (tidak satupun daerah yang terbebas dari penyebaran NAPZA baik di kota maupun di desa), status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan profesi (pengangguran, pelajar, mahasiswa, pengusaha, birokrat, keamanan bahkan dokter pun ada).

Dari hasil wawancara diketahui bahwa alasan tersering mereka menggunakan NAPZA adalah terbawa teman dan untuk menghilangkan perasaan bosan, jenuh dan gelisah. “Sebenarnya ada 3 faktor penyebab orang menggunakan NAPZA yaitu faktor internal dari dirinya sendiri yang lemah, pola asuh dari keluarga yang tidak baik, dan faktor lingkungan. Yang terakhir inilah kelihatannya yang paling dominan,” ungkap Wenda.

Adapun upaya penanggulangannya, semua itu perlu sebuah pendekatan yang menyeluruh (holistik) antara lain berupa upaya promotif, preventif dan edukatif. Upaya promotif diarahkan pada kombinasi faktor pemakai dan lingkungan. Sedangkan upaya preventif perlu memperhatikan apa yang disebut ‘gate way’ seperti rokok, mariyuana, dan alkohol yang lebih dulu digunakan sebelum menggunakan zat psikoaktif lain yang lebih berat perlu dicegah.

Secara edukatif, bagi remaja dan orang tua carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang NAPZA dari berbagai sisi. Sebab kalau sudah mengetahuinya dengan benar, maka kita akan mengatakan tidak ada efek baik sedikit pun dari NAPZA itu. Semuanya merusak. Anda peduli, maka lakukanlah!***[Arda].

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.